A. Pengertian Manajemen & Manajemen Pengembangan
Definisi manajemen menurut para ahli:
1. Winardi
Menurut Winardi, manajemen adalah sebuah proses yang khas dan terdiri dari tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, serta pengawasan yang dilakukan
untuk menentukan dan mencapai sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan
sumber daya manusia dan sumber-sumber lain.
2. Follet dan Danim
Menurut Follet dan Danim, manajemen adalah seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang
lain, dalam hal ini seorang manajer, yang bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain
untuk mencapai tujuan organisasi.
Adapun pengertian dari manajemen pengembangan sebagai berikut:
Pengembangan manajemen atau disebut dengan management development merupakan
suatu program dalam sebuah organisasi untuk mendorong manajer dan calon manajer agar
mengembangkan keterampilannya, pengetahuan, sehingga akan meningkatkan tanggung
jawab mereka dalam sebuah organisasi. (Wikipedia)
Majunya pendidikan bergantung dari kualitas gurunya. Di samping itu kuantitas serta
penyebaran guru yang sesuai juga berpengaruh pada kemajuan pendidikan. Untuk itu guru
harus terus dikembangkan terutama kompetensinya, sehingga dibutuhkan manajemen
pengembangan guru agar profesional. Pertanyaan yang terjadi,
"Siapakah yang harus
mengembangkan kompetensi guru secara terus menerus? Apakah guru yang bersangkutan,
pemerintah, kepala sekolah, dan atau masyarakat?"
Sekolah akan berjalan dengan baik bila memiliki kepala sekolah yang kompeten sehingga
mampu mengelola atau memanajemen sekolah yang dipimpinnya khususnya pada delapan
standar nasional pendidikan, yaitu: standar isi, proses, kompetensi kelulusan, standar pendidik
dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar
pembiayaan, dan standar penilaian.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala
Sekolah/Madrasah telah ditetapkan bahwa ada 5 (lima) dimensi kompetensi yaitu:
Kepribadian, Manajerial, Kewirausahaan, Supervisi dan Sosial. Masing-masing dimensi
mempunyai indikator yang hendaknya dimiliki oleh semua kepala sekolah diberbagai jenjang
pendidikan.
Kompetensi manajerial adalah salah satu kompetensi yang perlu terus dikembangkan oleh
kepala sekolah, sebab mempunyai indikator terbanyak dibandingkan empat kompetensi yang
lainnya. Di samping itu tidak semua kepala sekolah memiliki kompetensi majanerial yang baik.
Sekolah dipandang sebagai organisasi. Contohnya Sekolah Menengah Atas (SMA) yang
sudah dipercaya masyarakat dan memiliki ribuan siswa tentu lebih rumit pengelolaannya
dibandingkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Sekolah Dasar (SD), sebab SMA
memiliki bagian yang lebih besar dibanding SMP atau SD, diantaranya sudah ada
jurusan/spesifikasi. Untuk itu dibutuhkan kompetensi manajerial kepala sekolah khususnya
kepala sekolah SMA sebagai bekal untuk mengelola sekolah yang dipimpinnya.
Di sisi lain, masing-masing sekolah memiliki kondisi guru yang berbeda beda, baik dari status
kepegawaiannya, tingkat pendidikan, sosial budaya, bahkan kondisi tingkat ekonominya. Akan
tetapi seorang kepala sekolah dituntut untuk mampu mengelola guru baik mulai rekruitmen,
seleksi sampai pada pengembangannya seperti memberikan kesempatan pelatihan,
workshop, lokakarya, seminar, bahkan meningkatkan kualifikasi pendidikan agar para guru
yang ada menjadi profesional sehingga mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya
dengan baik.
B. Tantangan Manajemen
Pengembangan Guru Profesional
Manajemen pengembangan guru profesional adalah proses penting dalam
meningkatkan mutu pendidikan. Tantangan dalam manajemen pengembangan
guru profesional dapat bervariasi dari satu negara atau wilayah ke negara atau
wilayah lainnya. Berikut ini beberapa tantangan umum yang sering dihadapi dalam
manajemen pengembangan guru profesional, yaitu:
1. Keterbatasan sumber daya
2. Kurangnya waktu
3. Kualitas pelatihan yang bermasalah
4. Evaluasi kinerja guru
5. Dukungan dan pengawasan yang kurang
6. Perkembangan teknologi
7. Kebijakan pendidikan yang tidak konsisten
8. Kesenjangan kompetensi guru
9. Mengatasi perubahan kurikulum
Mengatasi tantangan-tantangan ini memerlukan
komitmen kuat dari pihak pemerintah, sekolah,
dan masyarakat untuk memprioritaskan
pengembangan guru sebagai bagian integral dari
perbaikan sistem pendidikan. Dengan mengatasi
tantangan ini, pendidikan dapat terus
berkembang untuk memberikan pengalaman
belajar yang lebih baik bagi siswa di seluruh
dunia.
C. Sasaran Sikap
Profesional Guru
1. Sikap Terhadap Peraturan
Perundang-Undangan
Pada butir ke-sembilan Kode Etik Guru Indonesia disebutkan bahwa :
“Guru melaksanakan segala kebijaksanaan pemerintah dalam bidang
pendidikan” (PGRI 1973). Di Indonesia kebijakan pendidikan dipegang
oleh pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. Berbagai kebijakan-kebiajakan dan ketentuan telah
dikeluarkan oleh pemerintah terkait pendidikan, seperti pembangunan
sarana prasarana, peningkatan mutu pendidikan, pembinaan generasi
muda, dan masih banyak lain. Untuk memastikan bahwa guru
melaksanakan kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah
adalah dengan adanya Kode Etik Guru (butir ke-9). Sehingga dengan
hal itu guru di Indonesia wajib mengikuti dan menaati segala kebijakan
yang berasal dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
2. Sikap Terhadap Organisasi
Profesi
Keberadaan organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan
pengabdian secara bersama-sama dipelihara oleh guru di
Indoneisa. Dasar ini menunjukkan kepada kita bahwa betapa
pentingnya peranan dari organisasi profesi guru sebagai
wadah dan sarana pengabdian. Demi mencapai visi dan misi
dari organisasi PGRI maka diperlukan kesadaran dan
tanggung jawab para anggotanya (dalam hal ini guru).
Setiap anggota harus memberikan sebagian waktunya untuk
kepentingan pembinaan profesinya, dan semua waktu &
tenaga yang diberikan oleh para anggota ini yang
dikordinasikan oleh para pejabat organisasi tersebut.
3. Sikap Terhadap Teman
Sejawat
Ayat 7 Kode Etik Guru menjelaskan bahwa guru memelihara
hubungan seprofesinya, semangat kekeluargaan, dan
kesetiakawanan sosial. Hal ini berarti guru hendak menciptakan dan
memelihara hubungan sesama guru dalam lingkungan kerjanya dan
guru juga harus menciptakan serta memelihara semangat
kekeluargaan & kesetiakawanan sosial di lingkungan kerjanya.
Profesi keguruan sangat memerlukan adanya kesadaran antar
sesama profesi. Rasa persaudaraan, saling peduli, saling mendorong,
dan saling membantu antar sesama saudara dalam profesi
keguruan. Profesi keguruan dapat maju dan tentram apabila semua
guru memiliki sikap peduli antar sesama profesi.
4. Sikap Terhadap Anak
Didik
Dalam kode etik guru Indonesia dengan jelas dituliskan bahwa
: guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk
manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila. Dasar
ini mengandung beberapa prinsip yang harus dipahami oleh
seorang guru dalam menjalankan tugasnya sehari-hari: yakni
tujuan pendidikan nasional, prinsip membimbing, dan prinsip
pembentukan manusia Indonesia seutuhnya. Tujuan
pendidikan nasional dengan jelas dapat dibaca dalam UU No.
2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni membentuk
manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila.
5. Sikap Terhadap Tempat
Kerja
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa suasana yang baik di
tempat kerja akan meningkatkan produktivitas. Untuk menciptakan
suasana kerja yang baik ini ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu
:
1. Guru sendiri,
2. Hubungan guru dengan orang tua dan masyarakat sekeliling.
Terhadap guru sendiri dengan jelas juga dituliskan dalam salah satu
butir dari kode etik yang berbunyi: "guru menciptakan suasana
sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajarmengajar."
6. Sikap Terhadap
Pemimpin
Sudah sangat jelas bahwa pemimpin suatu unit atau
organisasi akan mempunyai kebijakasanaan dan arahan
dalam memimpin organisasinya, di mana setiap anggota
organisasi itu berusaha untuk bekerjasama dalam
melaksanakan tujuan organisasi tersebut. Bisa saja
kerjasama yang dituntut oleh pemimpin tersebut diberikan
berupa tuntutan akan kepatuhan dalam melaksanakan
arahan dan petunjuk yang diberikan. Kerjasama juga dapat
diberikan dalam bentuk usulan dan malahan kritik yang
membangun demi pencapaian tujuan yang telah
digariskan bersama dan kemajuan organisasi.
7. Sikap Terhadap
Perkerjaan
Tugas melayani orang yang beragam sangat memerlukan kesabaran dan
ketelatenan yang tinggi, terutama bila berhubungan dengan peserta didik
yang masih kecil. Barangkali tidak semua orang dikaruniai sifat seperti itu,
namun bila seseorang telah memilih untuk masuk profesi guru ia dituntut.
untuk belajar dan berlaku seperti itu.
Dalam butir keenam ini dituntut kepada guru, baik secara pribadi maupun
secara kelompok untuk selalu meningkatkan mutu dan martabat profesinya.
Guru sebagaimana juga dengan profesi lainnya, tidak mungkin dapat
meningkatkan mutu dan martabat profesinya bila guru itu tidak meningkatkan
atau menambah pengetahuan dan keterampilannya, karena ilmu
pengetahuan yang menunjang profesi itu selalu berkembang sesuai dengan
kemajuan zaman. Untuk meningkatkan mutu profesi secara sendiri-sendiri,
guru dapat melakukannya secara formal maupun informal.
D. Pengembangan Sikap
Profesional Guru
1. Pengembangan Sikap Selama
Prajabatan
Pengembangan sikap selama pendidikan prajabatan keguruan merujuk
pada proses di mana calon guru atau mahasiswa yang sedang menjalani
pendidikan keguruan memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap
yang diperlukan untuk menjadi seorang pendidik yang efektif. Bagian dari
pengembangan ini adalah fokus pada perkembangan sikap yang sesuai
dengan etika dan standar profesional yang relevan dalam bidang
pendidikan.
Pengembangan sikap ini melibatkan kombinasi pembelajaran dalam kelas,
pengalaman lapangan, dan refleksi, serta mentoring oleh pendidik
berpengalaman. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan calon guru agar
memiliki sikap yang mendukung keberhasilan dalam menjalankan tugastugas mereka sebagai pendidik dan untuk menjaga standar profesional yang
tinggi dalam profesi keguruan
2. Perkembangan Sikap Selama Dalam
Jabatan
Perkembangan sikap selama dalam jabatan keguruan merujuk pada
perubahan atau perkembangan sikap seorang guru selama mereka
menjalankan tugas mengajar dan berinteraksi dengan siswa dan lingkungan
pendidikan secara umum. Hal ini mencakup perubahan sikap guru terhadap
siswa, metode pengajaran, pemahaman terhadap materi pelajaran, dan
tanggapan terhadap berbagai situasi yang muncul dalam konteks pendidikan.
Perkembangan sikap selama dalam jabatan keguruan dapat dipengaruhi
oleh berbagai faktor, seperti pengalaman mengajar, pelatihan tambahan,
perubahan dalam kurikulum, dan interaksi dengan berbagai jenis siswa. Guru
yang berkomitmen untuk terus memperbaiki kualitas pengajaran mereka dan
mengembangkan sikap yang positif terhadap siswa dan pendidikan akan
berkontribusi positif terhadap proses pendidikan dan perkembangan siswa.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar